Kisah Ibu muda dan seorang anaknya yang masih TK yang berusia lima tahun, Ibu ini sangat menyayangi anaknya. Mereka tinggal di kota megapolitan yang terkenal dengan gedung-gedung pencakar langit yang tinggi, bangunan-bangunan yang indah dan menara-menara yang terkenal menjulang tinggi dan megah.
Suatu sore yang telah direncanakan Ibu muda ini bermaksud mengajak anak kesayangannya berjalan jalan di pusat kota sambil menikmati pemandangan sore yang sangat indah. “Nak, mari kita berjalan-jalan menikmati pemandangan di pusat kota, pakailah baju barumu nak dan kita tunjukkan pada orang-orang kalau Ibu punya anak yang sangat tampan” kata si Ibu muda kepada anaknya.
Singkat cerita, akhirnya mereka berjalan keluar dari rumah mereka. Di kota ini ada kebiasaan sehat dari para warganya untuk berjalan kaki daripada mengendarai motor atau mobil. Suasana sore itu sangat ramai dan si Ibu muda ini menggandeng anaknya dan terus bercerita tentang gedung-gedung yang baru saja mereka lalui. Sampai akhirnya hari sudah hampir gelap – menjelang malam, dan si Ibu muda ini merasa agak lelah. “ Nak mari kita mampir ke sebuah kedai hotdog dan ice cream, mari kita makan di sana dan beristirahat”.
Sambil beristirahat Si Ibu muda ini menanyakan perasaan anaknya setelah di ajak berjalan-jalan. Katanya “Nak, bagaimana perasaanmu? Apakah kau gembira, bukankah Tokyo Tower menara yang tinggi itu sangat indah, tadi kau lihat tidak lampu-lampu yang sangat anggun menghiasi menara tersebut dengan sangat indahnya” Ternyata wajah si anak bukannya gembira, yang terlihat ekspresi kesal, merengut, penuh rasa lelah, bahkan marah pada Ibunya. “Nak, ada apa dengan kamu? Mengapa wajahmu cemberut seperti itu?” Ibunya bertanya kepada anaknya. “Ibu, saya tidak mau jalan-jalan lagi dengan Ibu. Semua tidak sesuai dengan apa yang Ibu katakan, semua bohong!!!” teriak si anak kepada Ibu-nya.
Kira-kira apakah kita tahu apa penyebab si anak marah kepada Ibunya? Apa karena ia lapar? Atau karena ia lelah?? Daripada kita menebak-nebak mari kita lanjutkan ceritanya..... ini kembali.
“ Lho bukannya kau menikmati perjalanan tadi, apa yang Ibu lihat juga kamu lihat?, tidak ada yang berbeda sedikitpun dengan apa yang kamu lihat?” kata si Ibu heran. “Ibu, dengarkan saya, tadi di perjalanan, saya hanya melihat kaki-kaki orang, saya tidak lihat apapun seperti yang Ibu janjikan, waktu saya katakan saya tidak lihat Ibu tidak dengar karena suasana ramai sekali, dan yang pasti saya sangat capek hari ini, langkah kaki Ibu sangat lebar sehingga saya setengah berlari, dan saya harus mengikuti Ibu terus tanpa Ibu tahu saya sudah sangat kelelahan dari tadi!! Saya tidak mau jalan-jalan lagi bersama Ibu!!!”
Pelajaran apa yang dapat kita petik dari cerita ini?? Ya, kadangkala kita tidak sadar kalau cara pandang kita terhadap buah hati kita sangatlah berbeda, apa yang kita maksud baik belum tentu benar-benar baik buat buah hati kita, kisah tadi hanyalah sebuah perumpamaan, kalaupun itu pernah terjadi pada kita mari kita renungkan bersama apa yang seharusnya kita lakukan? Dan apa yang yang harus kita perbuat sehingga kita sebagai orang tua bisa memiliki cara pandang yang dimengerti oleh anak kita.
Ada tiga kesalahan si Ibu dalam cerita ini, kesalahan yang pertama Si Ibu tidak menyadari bahwa tinggi badannya dan tinggi badan putranya sangatlah berbeda, hal ini dapat kita jabarkan bahwa kadangkala kita menetapkan target yang terlalu tinggi untuk di capai oleh buah hati kita, baik itu target akademis maupun target-target yang lain, kita mengukurnya dari pemikiran dan cara pandang kita (orang dewasa). Perlu para orang tua tahu bahwa anak-anak perlu proses yang lama untuk mencapai seperti pemikiran kita. Anak-anak bukan mie instant, bukan copy instant yang di seduh langsung siap saji. Anak-anak yang dididik secara instan akan kehilangan banyak hal, salah satunya adalah prosesnya itu sendiri.
Kesalahan yang kedua adalah si Ibu tidak memperhitungkan bahwa di tengah suasana yang sangat ramai, penuh sesak orang-orang dewasa berjalan, si Ibu tidak dapat mendengar apa yang puteranya katakan, bahkan teriakkannya sekalipun. Sangat menyakitkan bagi kita sendiri bila tidak ada orang yang tahu apa yang kita mau, tidak ada yang mau mendengarkan kita, bahkan ketika ada orang yang kita harapkan bisa menolong kita, seseorang yang kita tahu punya kemampuan untuk itu tapi ternyata sibuk sendiri dan tidak memiliki waktu untuk mendengar bahkan memahami kita. Kalau kita saja merasa sakit hati apalagi dengan anak-anak kita. Belajarlah untuk mendengarkan dan memberikan waktu khusus untuk bersama buah hati kita, agar mereka merasa dihargai, dicintai, diterima. Bukankah kebutuhan dasar manusia selain sandang papan pangan kita juga butuh rasa aman, dihargai, dicintai (berdasarkan teori Abraham Maslow)
Kesalahan si Ibu yang ketiga adalah Ibu ingin agar anaknya mau mengikuti langkahnya tanpa tahu langkah kaki kecil anaknya terseok-seok agar selalu berada di dekat orang yang ia sayangi? Apakah kita sebagai orang tua pernah memaksakan kemauan kita pada buah hati kita. seperti: Menghitung dengan super cepat, bahkan lebih cepat dari kalkulator? Plus digit yang dikalikan semakin banyak semakin HEBAT? Mampu memainkan alat musik apapun, sehingga membuat iri orang tua yang lain karena anak kita hebat? Juara 1 di kelas dari SD-SMU bahkan lulus kuliah perguruan tinggi dengan IPK sempurna 4,0 predikat cum laude, dapat beasiswa, lulusan termuda? Mempunyai gelar Dr, Ir dan embel-embel gelar yang lain yang akan memenuhi KTP-nya kelak?
Ya, kadangkala kita tidak sadar ketika kita memaksakan kemauan kita, padahal kita sadar sebenarnya buah hati kita memiliki kemampuan akademis biasa-biasa saja, sedangkan talenta buah hati kita sangat mahir melukis wajah Ibu yang sangat ia sayangi melebihi bakat Leonardo Da Vinci? Misalkan saja kita katakan pada buah hati kita bila nilai matematika yang didapat HARUS minimal 90, di bawah itu jelek. Apa yang terjadi bila ia mendapat nilai 80, kemudian nilai berikutnya 60? Anak tersebut tentu saja akan berpikir nilainya selalu jelek dan itu membuat ia berpersepsi sama dengan BODOH, jadi buat apa belajar? Sehingga anak akan mencapai kesimpulan bahwa belajar menjadi membosankan atau percuma saja sebab paling juga akan mendapatkan nilai di bawah 90 karena terlanjur memiliki persepsi yang salah tentang proses belajar.
Yang kita harus lakukan sebagai orang tua adalah mendukung apa yang buah hati kita lakukan, memberi semangat, rasa aman, kedamaian, pujian, dan kasih sayang yang tulus,dan pengertian. Sehingga apa yang menjadi maksud dan tujuan kita dapat dimengerti dengan baik oleh buah hati kita. Sepertinya si Ibu tadi seharusnya menggendong putranya, sehingga si anak tidak kelelahan mengikuti langkah ibunya, si anak juga bisa melihat apa yang Ibunya maksud yaitu menara dan gedung pencakar langit yang indah, dan si Ibu bisa mendengar apa yang anaknya inginkan.
Orang tua yang baik seharusnya bersikap bijaksana, tidak melepaskan tugas dan tanggung jawab sebagai begitu saja dan menganggap anak kita bisa mandiri dengan sendirinya. Bisa segala yang kita mau dengan hanya mengatakan apa kemauan kita. Anak membutuhkan pendampingan, dorongan, kasih sayang, pengertian yang baik dari orang tua yang sangat mereka sayangi dan banggakan. Didiklah anak kita dengan bijak dan proposional tanpa harus mengorbankan kebahagiaan anak itu sendiri.
Semoga bermanfaat.
Salam Sukses SUPER Dahsyat.
Yance Chan
Wealth & Mindset Therapis
If my probelm was a Death Star, this article is a photon torpedo.
I bow down humbly in the prsenece of such greatness.
critanya bagus Pak Yance.. "Didiklah anak kita dengan bijak dan proposional tanpa harus mengorbankan kebahagiaan anak itu sendiri."





















Umesh on Kesalahan Fatal Dalam Mendidik Anak
Selalu berkata jujur dan pnaatng menyerah, walaupun sering melakukan kesalahan tapi tak pernah malu untuk meminta maaf dan terus berusaha untuk bisa menjadi lebih baik.
Byoungwoo on Spend Only For Survive
biasakanlan diri anda untuk sellu Intropeksih diri,karnah intropeksih diri,membawa anda untuk saellu mengingat akan apa yg anda lakukan,apa itu baik/buruk
Bob on Kesalahan Fatal Dalam Mendidik Anak
Selalu berkata jujur dan pntnaag menyerah, walaupun sering melakukan kesalahan tapi tak pernah malu untuk meminta maaf dan terus berusaha untuk bisa menjadi lebih baik.
widiyanto on Pentingnya memiliki Payung PROTEKSI
saya suka motivasi dari mendengarkan history orang sukses. apakah sudah ada buku tentang history perjalanan hidup pak yance sampai sukses seperti sekarang ini?
Stone on Pentingnya memiliki Payung PROTEKSI
So that's the case? Quite a rveelatoin that is.